Monday, September 26, 2016

Gerimis



Pagi itu, kala kakimu menegak dan menyambut langkahku;
~ tiada kata selain "rindu...".
Setelah sekian lama tiada kabar sepucukpun,
kita dipertemukan oleh duka...

Berpelukan kita.
Erat.
Hingga udara terasa terselimuti senyap.
Meski tak ada sepatahpun kata.
Jiwa kitalah yang saling menyapa.
Dan itu telah cukup membuat air mata kita menggayut.

Sekian detik kita salurkan segala rasa.
Saling mengirimkan getaran tanpa suara.
Hingga kau mengucap lirih,
"Dik, banyak sekali cerita..."

Pagi itu,
rintik hujan menjadi saksi kebersamaan kita.
Walau hanya sesaat.
Namun yang hanya sesaat itu sanggup luruhkan kecewaku.

Ahh...
Maafkan aku jika pernah ada prasangka.


::[]::

#Edisimelowketemusahabatlama
#LatePost
#KetemumbakRatih


Friday, August 5, 2016

Pentingnya Memaafkan (dengan Tulus)



Sebagai manusia, kita pasti pernah melakukan kesalahan yang membuat orang lain merasa tersakiti. Begitu pula sebaliknya; -- kita pasti pernah merasa tersakiti karena kesalahan orang lain. Dan jika ada pertanyaan "Lebih mudah mana, minta maaf atau memaafkan?"; -- saya yakin, mayoritas (atau bahkan semua) orang akan menjawab 'lebih mudah minta maaf'.

Benar.
Memaafkan (dengan tulus) itu memang sebuah hal yang sangat sulit dilakukan. Apalagi jika orang yang melakukan kesalahan (hingga membuat kita tersakiti) itu adalah orang terdekat kita. Pfuih, rasanya lebih sakit dibandingkan jika yang menyakiti adalah orang yang sama sekali tidak kita kenal.

Pernah mengalami hal seperti itu?
Saya pernah!

Setiap saya teringat peristiwa menyakitkan dan orang-orang yang terlibat di dalamnya, saya seolah ditarik kembali pada kenangan ketika peristiwa itu terjadi. Dan itu membuat saya merasa peristiwa tersebut baru saja saya alami. Jika semula saya memiliki keyakinan bahwa waktu akan menyembuhkan rasa sakit yang saya rasakan, pada kenyataannya -- karena saya selalu merasa peristiwa itu baru terjadi setiap kali saya teringat peristiwa itu -- rasa sakit itu tak juga kunjung hilang.

Ironis bukan?
Tapi yaaa, memang begitulaahh...
Jika kita mengingat sebuah peristiwa yang menyakitkan, otak kita akan otomatis kembali memutar peristiwa itu. Kenangan kita akan rasa sakit itu kembali kita rasakan. Perasaan marah, kecewa, jengkel dan perasaan negatif lainnya (terhadap orang-orang yang telah menyakiti kita) akan kembali memenuhi hati kita.
     Terlebih jika kita menceritakan hal itu pada orang lain!
     Karena pada saat kita bercerita, kejadian itu justru semakin melekat kuat pada memori kita.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan? Kita toh tidak akan pernah bisa melupakan sebuah kenangan, apalagi kenangan yang sangat menyakitkan karena (mungkin/pasti) membekas di hati kita sangat dalam.
     Ya. Kita memang tidak perlu berusaha untuk melupakan. Sebab yang (lebih) sering terjadi adalah semakin kuat kita berusaha melupakan, semakin hal itu tidak bisa kita lupakan. Biarlah kita tetap mempunyai kenangan terhadap peristiwa menyakitkan itu. Biarlah kita tetap mengingat sesiapa yang pernah menyakiti hati kita. Karena semua itu akan tetap selamanya menjadi bagian dari cerita hidup kita. Yang lebih baik kita lakukan adalah berdamai dengan perasaan sakit terhadap peristiwa dan/atau orang-orang itu. Karena pada saat kita memutuskan untuk berdamai, saat itulah kita juga tulus memaafkan.

Semua butuh proses.    
Namun seiring dengan semakin tingginya kesadaran untuk mendewasakan iman, Insya Allah semua rasa sakit yang tersebabkan oleh apapun dan siapapun akan termaafkan.
Aamiin...

Bukankah untuk membuat Allah senang adalah dengan sedekah, infaq, zakat serta akhlaqul karimah?

Bila kita melunakkan hati kepada orang lain, itu adalah tanda bahwa kita mencintai Allah dan tentu akan membuat Allah senang.

Jika kita mencintai Allah dan Allah senang dengan apa yang kita lakukan, Allah akan melimpahkan rahmat-Nya lebih banyak lagi pada kita.

Jadi, berusahalah mulai sekarang untuk berdamai dan memaafkan!

::[]::

#mendewasakaniman
#ayointrospeksi
#renungan
#cintaAllah


Tuesday, June 7, 2016

Menarik Pelajaran Dari Manapun...



Game 'tunjek-menunjek' akhirnya menular juga di grup ICT Family.

Dan menurutku, sharing dari pak Gunady Li (yang aku tunjek untuk sharing di grup) ini sangat menarik untuk aku simpan sebagai #Catatanku. 

Inilah sharing beliau (tanpa diedit).


#MenarikPelajaranBaikDariKejadianSeharihari

Sejak baksos, saya menemukan banyak hal baru untuk saya pelajari. Tidak hanya hal baru, tetapi juga kenal dengan orang2 baru. Dari orang2 baru inilah saya bisa mempelajari banyak hal baru, yang akan mengembangkan hidup dan pengetahuan saya selama ini.

Yang paling menarik adalah kisah hidup seseorang yang baru saya kenal secara langsung di baksos ini. Bukan kisah nya yang mau saya share, tapi apa yang bisa saya pelajari dari kisah itu yang ingin saya bagikan di sini.
Kepada saya, dia share dan bercerita mengenai kejadian2 dan hal2 kelam yang pernah dia alami dalam hidupnya, yang membuat saya ga percaya bahwa dia pernah dan bisa mengalami hal tersebut jika melihat kondisi dia yang sekarang. Dan hebatnya, apa yang saya lihat dari dia sekarang adalah sesuatu yang benar2 beda, benar2 baru tanpa adalagi bayang2 masalah2 masa lalu nya tersebut. Bahkan jika melihat aura kebaikan nya, benar2 tidak terasa bahwa dia pernah mengalami hal2 buruk tersebut.

Ada tiga hal yang benar2 menginspirasi saya dari perkenalan dan kisahnya tersebut:
-   Jangan hidup dalam bayang2 masa lalu. Selalu syukuri dan jalani hidup ini dengan kebahagiaan dan selalu berbagi dengan sesama.
-   Jika kita berniat dan selalu berbuat kebaikan, maka akan selalu ada jalan yang disediakan bagi kita untuk mencapai nya.
-   Perubahan hidup mu bukan di tentukan dari apa yang kamu pelajari atau dari orang lain. Perubahan itu datang dari dalam diri sendiri. Ketika kita mengenali sesuatu yang ga beres dan mau berubah, di situlah perjalanan sebenarnya hidup kita berasal.

Bahkan dari perkenalan singkat pun kita bisa mempelajari hal baru bukan... luar biasa.


Aku jadi teringat pesan bijak dari Bapak, untuk selalu bisa mengambil nilai positif dari segala hal. Bahkan dari seburuk-buruk keadaan, bila kita melihat dengan kejernihan hati dan pikiran, InsyaAllah kita bisa mendapatkan nilai positif itu.

Point utama dari nasihat tersebut adalah kita harus memiliki bekal yang cukup untuk memilah, hal mana yang bisa kita jadikan hikmah dalam keadaan terburuk sekalipun.

Kapanpun.
Dimanapun kita berada.
Dengan siapapun kita saat itu.


::[]::


#MenarikPelajaranBaikDariKejadianSeharihari
#Catatanku
#ICTers
#NasihatBapak


Monday, May 30, 2016

FILSAFAT TIONGHOA



>>>Reshared today from ICT Family Group 
by Mr. Jose Sualang<<<


GUNUNG memiliki KETINGGIAN masing-masing
AIR memiliki KEDALAMAN masing-masing
Tidaklah perlu saling membandingkan, karena SETIAP ORANG juga PUNYA KELEBIHAN masing-masing.

Angin memiliki sifat yang bebas,
Awan memiliki kelembutan Tidaklah perlu kita meniru, setiap orang juga memiliki sifat masing-masing.

 Raihlah apa yang kita anggap bisa membawa kebahagiaan
 Jagalah apa yang kita anggap pantas.
 Hargailah apa yang kita anggap suatu keberuntungan
 Ikuti kata hati, agar tidak ada penyesalan dalam hidup.

1. Manusia punya 1 jalan :
          JALANILAH JALAN SENDIRI

2. Manusia punya 2 mustika :
          TUBUH SEHAT
          SUASANA HATI BAIK

3. Manusia punya 4 penderitaan hidup :
          TIDAK MELIHAT KEBENARAN
          TIDAK BISA MERELAKAN
          TIDAK MAU KALAH
          TIDAK BERSEDIA MELEPASKAN

4. Manusia punya 5 kalimat hidup :
          WALAU SUSAH TETAP BERUSAHA,
          WALAU SUDAH BAIK, TETAP HARUS BERSAHAJA
          WALAU SERBA KURANG JUGA HARUS PERCAYA DIRI
          WALAU BERKELEBIHAN JUGA HARUS HEMAT
          WALAU KEDINGINAN, HATI HARUS TETAP HANGAT

5. Manusia punya 6 kekayaan hidup :
          TUBUH
          PENGETAHUAN
          IMPIAN
          KEYAKINAN
          PERCAYA DIRI
          TEKAD JUANG

Saat kita menanam padi, rumput ikut tumbuh, tapi saat kita menanam rumput tidak pernah tumbuh padi.
Dalam melakukan kebaikan, kadang-kadang hal yang buruk turut menyertai.
Tapi saat melakukan keburukan, tidak ada kebaikan bersamanya.

Kembangkan terus perbuatan baik dan kebajikan dalam kehidupan kita



::[]::

#Catatanku
#ICTFamily
#ReminderForMySelf

Friday, May 20, 2016

Izel Sayaaanng Banget ma Bunda :)



"Merasa mencintai, memperhatikan dan menghargai seorang anak belumlah cukup, yang paling penting adalah bagaimana membuat mereka merasa dicintai, dihargai dan diterima"


Buku "Rahasia Mendidik Anak" 
Quote pak Ariesandi di buku beliau yang berjudul "Rahasia Mendidik Anak Agar Sukses Bahagia" itu benar-benar menjadi sebuah renungan tersendiri bagiku.

Kalau aku ditanya apakah aku mencintai, memperhatikan dan menghargai Izel, maka pasti aku akan menjawab dengan 'iyalah pasti!!!'
Tapi apakah Izel merasa bahwa dia dicintai, dihargai dan diterima oleh kami, orangtuanya?

Catatan penting yang HARUS aku ingat sebagai orang tua adalah, bahwa anak kita menginginkan supaya kita [Buku "Rahasia Mendidik Anak" hal. 88]:

  • Mencintai tanpa syarat
  • Menghargai usaha dan pendapat mereka
  • Menerima mereka apa adanya, terutama saat mereka berada dalam kondisi emosi yang negatif
  • Menghormati dan rukun dengan pasangan hidup kita
  • Menatap matanya saat berbicara dengan mereka
  • Memegang tubuh mereka saat berbicara
  • Meluangkan waktu khusus untuk melakukan suatu kegiatan bersama
  • Berada di sisinya saat mereka menghadapi kesulitan, bahkan untuk kesulitan kecil (menurut kacamata kita) seperti pensilnya macet tidak bergerak saat meraut, membuka plastik makanan atau menggunting
  • Melakukan apa yang kita minta mereka lakukan 

Lalu berbagai peristiwa terputar ulang dalam otak dan benakku. Tentang bagaimana kami [khususnya aku] telah memperlakukan Izel selama ini.

Satu peristiwa terputar. Ketika aku terlalu sibuk dengan kegiatan yang sedang aku lakukan dan tidak mengindahkan Izel yang tengah mengajak ngobrol. Melihat dan mendengarku hanya menanggapi dengan deheman atau sepatah kata 'yaaa' [tapi tetap terus asyik dengan kegiatanku] membuat Izel meninggikan suara dan mendekap kedua pipiku sambil berkata, "Bundaa,... ayoo sini lihat Izel duluu!"

Saat itu aku tersadar.
Untuk kemudian meninggalkan sejenak kegiatan yang tengah aku tekuni dan mendengarkan ceritanya dengan sungguh-sungguh [meski kadang tidak aku mengerti karena Izel masih belum lancar berbicara]. Tapi semoga itu membuatnya merasa bahwa dia dicintai, dihargai dan diterima oleh orangtuanya.

Dok. Maret 2014
OK.
Nanti malam sebelum tidur, aku akan menanyakan apakah dia MERASAKAN kasih sayang kami :)

Yang jelas, pelukan dan ciuman sayangku yang aku pertegas dengan kalimat, "Bunda sayaaang banget ma Izel" yang lantas dia jawab dengan "Izel sayaaangg banget ma bunda" benar-benar membuat aku bahagia berbunga-bunga...

Semoga aku bisa menjadi ibu yang sukses mendidik Izel selamat dunia akherat. Aamiin...



::[]::

Cepatlah besar Matahariku, menangis yang keras janganlah ragu
Tinjulah congkaknya dunia buah hatiku
Doa kami di nadimu
[Iwan Fals - Galang Rambu Anarki]


#Parenting
#RahasiaMendidikAnak
#Catatanku
#Izel

Thursday, May 19, 2016

Memberi untuk Mendapatkan Lebih



Setelah sekian lama ga punya kesempatan untuk menulis [dan mengisi blog ini], akhirnya 'kesempatan' itu ada karena 'tunjekan' de Esti di SMC grup.

Jadilah aku tertunjek untuk kembali nulis.

Dan kisah ini aku adaptasi dari tunjekanku pada diri sendiri di hari kedua game #MenarikPelajaranBaikdariKejadianSehari2 yang tengah berlangsung di grup #SuccessMasteryClub

And, here it is...

Kurang dari sebulan yang lalu saya mendapati status seorang sahabat yang merasa mules karena gugup lantaran dia akan menempuh ujian tesis. Singkat cerita, saya menawarkan diri untuk meng-ICT dia supaya dia PD saat menghadapi ujian nanti.

Tanggal 2 Mei selepas ujian, dia mengabari saya bahwa ujiannya lancar dan Alhamdulillah mendapatkan nilai A. Ada perasaan ikut lega dan senang karena kabar gembira itu. 

Pagi ini saya mendapatkan sebuah foto dari dia. Foto halaman ucapan terima kasih pada tesis yang baru saja diselesaikannya.
Pada poin ke 8 dia menuliskan “My old school buddies, Iera, super thanks buat terapi “pede”nya, lenyap sudah jiper dan gugupku. Bla bla bla…”

Wuuhh… tiba-tiba perasaan senang saya bercampur haru.

Kalau saja saya tidak ikut kelas ICT bulan April lalu, mungkin saya hanya membantu dia sebatas mengirim doa seperti yang sudah-sudah. Tapi kali ini saya bisa membantu dia lebih.

Perasaan ini membuat saya semakin sadar, bahwa dengan membantu lebih banyak membuat kita semakin ingin membantu lebih banyak lagi. 
Karena dengan memberi, kita justru mendapat banyak. Dengan memberi lebih, kita mendapat lebih banyak lagi!

Selamat berbagi dan berbuat kebaikan!

Capture BBM dari Novi

Foto Halaman Ucapan Terima Kasih di Tesis Novi
Sudahkah Anda berbuat baik hari ini??


::[]::


#MenarikPelajaranBaikdariKejadianSehari2 
#SuccessMasteryClub
#InstantChangeTechnique
#MenuaiKebaikan

Wednesday, May 4, 2016

Pernahkah Anda Merasa Seperti Ini?




Kok aku mendadak merasa miskin ya?
Karena begitu banyak ilmu yang belum aku pelajari;
begitu banyak amal yang belum aku lakukan;
begitu banyak kebajikan yang belum aku kerjakan;
begitu banyak syukur yang belum aku ucapkan.

Kenapa tiba-tiba perasaan itu muncul?
Karena pagi ini aku telah mempelajari sesuatu yang belum aku ketahui sebelumnya;
aku menyadari amalku masih belum sempurna bahkan ala kadarnya;
aku mendadak menyadari bahwa telah mendapatkan kesempatan berbuat baik tapi aku lewatkan;
karena aku pun menyadari bahwa telah banyak nikmat Allah yang aku dapatkan tapi tidak aku syukuri.

Jika [salah satu saja] jawaban Anda Ya! So let's fight!
Sebab merasa sadar saja percuma.

NIATKAN diri Anda untuk berjuang memberantas kemiskinan yang membelenggu Anda.
IJINKAN diri Anda berjuang menghancurkan kemiskinan tersebut.
Dan LAKUKAN perjuangan itu SEGERA!


Salam Hebat!
We Are A Champion!


::[]::

#Catatanku
#WeAreAChampion