Istri dimana saja sama, sebagian dari tugasnya adalah untuk dilukai
suami, dan sebagian yang lain untuk memberi maaf kala suami bertobat
(Serong –
LKH)
Apa yang Anda rasakan saat membaca kalimat tersebut di atas? Adakah
sesuatu yang berkecamuk dalam pikiran dan hati Anda?
… Seandainya Anda adalah seorang istri?
atau
… Seandainya Anda adalah seorang suami?
Yang jelas, saat pertama kali membaca kalimat tersebut (tanggal 11
November 2004; yang lantas membuat saya memutuskan untuk membeli novel itu) ---
saya (maaf) mengumpat!
, betapa 'teraniaya'nya seorang istri andai memang seperti itulah
tugasnya.
Lantas, mengapa tiba-tiba saya tertarik mengangkat topik ini?
Well, saya tertarik karena
telah beberapa kali saya temui berbagai peristiwa perselingkuhan alias SERONG
di sekitar saya --- bahkan ternyata, banyak terjadi pada orang-orang terdekat
saya.
Salah seorang rekan saya pernah bercerita:
“Ier, gw selingkuh! Tapi bukan selingkuh fisik, soalnya gw ga pernah
janjian kencan ma dia. Ini selingkuh hati. Dan gw tau, justru itu yang bahaya!”
,… bahwa secara pribadi, saya tidak menyalahkan CINTA yang terjalin
dari sebuah perselingkuhan [uhm, kalau
itu memang boleh dinyatakan sebagai cinta dan bukan nafsu semata], TAPI, ijinkan
saya ‘menentang’ dengan cara saya jika rasa CINTA itu dibiarkan berkembang bahkan
sengaja dikembangkan.
Yang sering terjadi, para pelaku perselingkuhan mencari pembenaran atas
apa yang mereka lakukan,--- termasuk pembenaran telah mencintai ‘orang-yang-salah’; dengan salah satunya menyatakan bahwa perasaan mereka sangat manusiawi. Sadarkah mereka, bahwa
begitu banyak orang yang tersakiti dengan perbuatan mereka? Lantas, masih
pantaskah perbuatan mereka dibenarkan?
Bukan saya sok suci atau munafik… [Sebab siapa tahu saya pernah, sedang, atau
nantinya akan terlibat dalam sebuah perselingkuhan?? Ooppss!!!!]
Tapi hanya karena kebetulan saya adalah seorang perempuan, maka saya
mengungkapkan pendapat saya sebagai seorang manusia, seorang perempuan, dan seorang
istri… 
Bahwa, andai saya berada di posisi yang tersakiti, saya pasti akan
menghujat perempuan yang telah menyakiti saya --- juga
pasangan saya yang telah tega menyakiti saya tentunya.
Saya hanya ingin menyampaikan sebuah pesan yang menurut saya cukup
sederhana untuk semua yang sudah mengikrarkan cinta mereka dengan pasangan [suami/istri]nya atas nama CINTA dan ALLAH;
Jagalah cinta yang sudah terikrar itu, sebab tidak ada satupun pembenaran yang bisa membenarkan sebuah pengkhianatan.
Akhir kata, SELAMAT buat yang telah menyudahi perselingkuhan mereka.
Bunda said:
“Cinta memang buta, tapi jangan sampai kita dibutakan oleh cinta”